Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Oktober 2015

Kenangan Yang Tertinggal

Kuningan-Bogor tak terlalu jauh
Walau bus sering tersengal menapaki jalan aspal
Sepanjang perjalanan aku menuliskan namamu
Pada kaca jendela yang ber-embun
Walau terkadang embun juga yang menghapusnya
Aku tidak peduli

Aku menyaksikan pohon dan rumah yang dilewati bus
Seolah berlari tak mau tertinggal
Ah, itu seperti kenangan kita yang tak mau kutinggal

Kuningan-Bogor ternyata cukup jauh
Untuk memisahkan cinta kita

Bogor, 10 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

Hanya Kamu

Penaku telah menari menuliskan sajak
Semuanya tentang kamu

Kuasku telah kugoreskan diatas kanvas
Semuanya hanya lukisan wajahmu

Pikiranku telah tersandra
Hatiku telah terikat
Lagi-lagi pikiran dan hatiku juga hanya tentangmu
Betapa mengerikannya orang yang sedang jatuh cinta

Bogor,07 Oktober 2015

Kutulis Namamu

Angin yang berhembus 'tlah menjatuhkan si daun kering yang malang
Aku menjadi saksi bagaimana ia pasrahkan dirinya pada angin

Ingin kutulis kebahagiaan pada sepucuk daun kering
Inhin kutulis keindahan pada sepucuk daun yang baru saja terhempas angin

Semuanya terlalu panjang
Terlalu banyak kebahagiaan yang ingin ku ceritakan
Terlalu banyak keindahan yang ingin ku kisahkan

Sedang sepucuk daun tak cukup untuk menuliskan itu
Maka, aku memutuskan untuk menuliskan namamu
Sebab, namamu telah mewakili kebahagiaan dan keindahan hidupku

Kan kubiarkan daun kering
Mengendap diladang hatiku
Menumbuh suburkan cinta yang baru saja tumbuh

Bogor, 07 Oktober 2015

Jarak

Seberapa jauh kita dipisahkan?
Seberapa lama kita tak bertemu?

Berapapun jarak membentang
Berapa lama pun waktu merentang

Sesungguhnya, jarak dan waktu hanya ilusi
Sebab cinta mampu menghilangkannya.

Bogor, 07 Oktober 2015

Selasa, 06 Oktober 2015

Arti Kesetiaan

Cinta telah mengajarkanku tuk setia pada satu hati.
Cinta juga telah mengikrarkan kesetiaan diantara kita.

Kini aku meragukan arti kesetiaan yang kau berikan.

Apa arti setiamu?
Jika kau sering membuatku cemburu.
Apa arti setiamu?
Jika kau sering membuatku berderai air mata di keheningan malam?
Apa arti setiamu?
Jika kau sering membuatku mengutuk cinta yang tak bahagia.
Apa arti setiamu?
Jika membuatku ragu tuk setia padamu.

Apakah seperti itu yang dinamakan setia?
Tapi mengapa mereka selalu bahagia di atas kesetiaan?

Diriku selalu bermandikan air mata atas nama kesetiaan
Diriku selalu berkubang dalam duka atas nama kesetiaan
Diriku selalu terpenjara dalam penyesalan atas nama kesetiaan
Diriku selalu tersayat kekecewaan atas nama kesetiaan
Diriku selalu memendam amarah atas nama kesetiaan

Lalu, Apa arti kesetiaan itu?
Apakah membiarkan hati terluka adalah kesetiaan?
Apakah membiarkan dada ini terkoyak adalah kesetiaan?
Apakah pasrah terhadap penyanderaan rasa juga adalah kesetiaan?

Lalu apa arti kesetiaan?
Sebab, aku ingin tetap setia.

Bogor, 6 Oktober 2015

Kesempurnaan Cinta

Aku mencintaimu seutuhnya
Aku mencintaimu apa adanya dirimu
Aku mencintaimu bukan karena sesuatu
Klise? Gombal? Biarlah.
Sebab cinta telah mengajarkan itu.

Aku tahu kau tidak sempurna
Karena diriku pun tak sempurna
Aku tahu kamu memiliki kekurangan
Karena diriku pun memiliki kekurangan
Cinta telah membuat semuanya indah
Dirimu adalah kesempurnaan dibalik ketidaksempurnaanku
Dirimu adalah kelebihan dibalik kekuranganku
Sebab cinta telah menyempurnakan semuanya

Berjalanlah disampingku!
Itu adalah kesempurnaan yang nyata
Genggamlah tanganku!
Itu adalah kebahagiaan terbesar
Tersenyumlah!
Maka, aku akan menemukan kenyataan bahwa bidadari itu ada

Tetaplah bersamaku!
Sebab, langkah kita tak selalu mulus
Eratkan peganganmu!
Sebab, badai dan gelombang senantiasa menghadang

Yakinlah!
Berdua, kita akan temukan makna cinta yang sesungguhnya.

Bogor, 06 Oktober 2015

Sebab Cinta

Berhentilah tuk saling menyakiti!
Sebab cinta tidak untuk itu.

Berhentilah tuk saling mengkhianati!
Sebab cinta tidak untuk itu.

Jangan pernah berpisah!
Sebab cinta selalu bersama.

Bogor, 05 Oktober 2015

Harapan Yang Menyakitkan

Tidak adakah lagi kesempatan bagiku?
Tidak adakah lagi cela dihatimu?
Hingga aku tak lagi terlihat dalam pandanganmu
Semua yang telah kita bangun luluh lantak dalam sekejap
Habis sudah disapu badai ego

Bukan aku tak ingin lagi melihatmu tersenyum
Bukan aku tak ingin lagi melihatmu bahagia

Senyummu yang kulihat kini tak lagi menentramkan
Bahagiamu kini adalah dukaku; lukaku

Jika bukan aku yang membuatmu tersenyum
Jika bukan aku yang membuatmu bahagia

Lalu untuk apa harapan masih ku simpan dalam hati?
Sedang luka bersemayam dalam jiwa
Perlahan menyayat hati

Sebab aku masih berharap senyum dan bahagiamu
Karena kehadiranku
Bukan dia yang telah merenggut bahagiaku

Bogor, 06 Oktober 2015

Sabtu, 03 Oktober 2015

Kutitipkan Rindu

Telah kutitipkan rindu
Pada riuh gerimis
Dan sepotong sajak hujan

Bogor, 03 Oktober 2015

Jumat, 02 Oktober 2015

Lupa

Senja menyapa
Lembayung telah meredup
Sang Surya entah dimana

Hujan telah mereda
Menyisakan jalanan yang basah

Tapi, kau tak juga kembali

Ternyata aku sedang melamun
Hingga aku lupa, kau bukan milikku lagi
Aku tak mungkin menunggu lagi di daun pintu
Sebab kau tak kan kembali

Bogor, 2 Oktober 2015

Hatiku Seumpama Kapas

Aku terlepas dari kumpulanku
Aku menjelma kapas yang malang

Angin telah menerbangkanku
Membiarkanku bercumbu dengan awan
Melayang-layang dalam genggaman angin
Mencari tempat berlabuh yang indah
Burung-burung kutilang melambai
Menggodaku 'tuk singgah disarangnya

Aku menyatu dengan gumpalan awan
Menyaksikan keindahan tiada tara
Putihku masih tetap suci
Aku ingin mencari tempat berlabuh

Angin menggenggamku erat
Mengantarkanku jatuh diwajahmu

Jangan terburu disibakkan!
Biarkan aku menikmati wajahmu!
Membelai wajahmu
Adalah ketenangan yang aku rindukan

Bogor, 2 Oktober 2015

Pesan Yang Belum Tersampaikan

Ranting-ranting pohon mengering
Daun-daun mahoni perlahan berguguran
Sawah dan ladang sudah gersang; kerontang

Kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran
Daun-daun kembali menghijau di ujung ranting
Sawah ladang mulai bergeliat;berlimpah air

Musim sudah berganti
Entah kenapa hati ini masih belum bisa tenang

Bogor, 02 Oktober 2015

Sepi Yang Sama

Sepi telah menjadi teman setia
Yang tak pernah absen menemaniku
Sejak beberapa waktu yang lalu
Setelah bahagiaku terenggut
Bersama langkah kakimu
Yang memilih menjauh
Meninggalkanku yang berbalut luka

Dimana kau kini?
Tak adakah rasa dihatimu yang tersisa?
Disini aku masih saja berteman duka dan nestapa

Hati yang rapuh ini perlahan runtuh
Tak kuat lagi menopang duka

Tak kutemukan lagi indah cinta yang disenandungkan pujangga
Tak kutemukan lagi ketenangan
Pada sebait puisi
Tak kutemukan lagi risalah
Pada bulir-bulir hujan yang menangisi jalan
Tak kutemukan lagi pelangi
Pada dinding hatiku
Tak kutemukan lagi senyummu
Dalam hidupku

Kelabu telah menjadi karib setia
Menemani hari-hariku yang sepi

Aku telah menjadi pecundang yang kalah
Bahkan sebelum berperang
Aku telah menyerah pada cintamu
Bahkan saat sebelum aku merasakan bahagia yang sesungguhnya

Aku masih disini
Berteman sepi yang sama

Bogor, 02 Oktober 2015

Nasihat Surgawi (Ibu)

Dalam Senyum kau sembunyikan letih
Derita siang dan malam menimpa
Tak sedetik pun menghentikan langkahmu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagiku

Sejuntai Cacian selalu menghampiri
secerah hinaan tak perduli bagimu
Selalu kau teruskan langkah untuk masa depanku

Bukan setumpuk emas yang kau harapkan di masa senjamu
Bukan gulungan uang yang kau minta di hari-hari letihmu
Bukan juga sebatang perunggu yang kau minta di masa tuamu
Engkau tak meminta apapun
Tapi keinginan hatimu membahagiakan aku
Membuatku menyadari apa yang harus kubalas padamu

Dan yang selalu kau katakan padaku
Aku menyayangimu sekarang dan sampai nanti aku tak lagi bersamamu
aku menyayangimu anakku dengan ketulusan hatiku

Dan aku ingin mengatakan:
Aku akan tetap mencintaimu
Karena engkaulah surga yang dikaruniakan Tuhan untukku
Tak kan kusia-siakan waktuku dengan membuat air matamu terjatuh
Aku akan tetap rindu nasihatmu
Meski suatu saat nanti kau tak lagi disisiku
Namun, namamu selalu hidup diatas kasih sayang yang kau tanamkan padaku

Jakarta, 22 Desember 2013

Cinta Dibawah Cahaya

Kala matahari tenggelam
Ia tinggalkan cahayanya
Menelisik ke bilik-bilik hati
Menerangi hati yang gelisah

Kulihat di kejauhan
Terang bulan di padang bintang
Cahaya fana nya menyelinap dibalik daun cemara
Mengintip siapa saja yang ada dibawahnya

Kulihat dua insan sedang memadu kasih
Betapa bahagianya mereka
Menghitung bintang merangkai rasi
Melukiskan harapan di kanvas langit

Bogor, 29 November 2014

Pembual

Sang pembual bercerita tentang eloknya purnama
Ia serupa matahari
Datang dari balik mega
Ia curi hatiku dengan sejuta pesona.
Lalu ia pangkas ranting jiwaku begitu saja
Aku tunduk,
Menyerah dihadapannya

Bogor, 27 September 2015

Takbir Cinta

Ketika cinta bertakbir,
Bibir ini senantiasa basah untuk memuji keagunganNya.
Kidung-kidung yang merdu senantiasa menggema memuliakan keagunganNya.

Ketika cinta bertakbir,
Tak ada nama lain yang selalu disebut selain namaNya.
Tak ada kerinduan selain kerinduan padaNya.

Ketika cinta bertakbir,
Rasa rindupun menjelma dalam doa,
Rasa harupun menjelma dalam air mata,

Ketika cinta bertakbir,
Malam yang gulita menjadi cahaya yang benderang,
Siang yang terik menjadi keteduhan dan ketenangan.

Ketika cinta bertakbir,
Tak ada yang indah selain menyebut namaNya,
Atas nama cinta yang agung sang pemilik cinta,

Bibir ini lirih kala menyebut namaMu,

Allahuakbar3x
Allahuakbar wa lillahilham.

Kuningan, 16 Juli 2015

Puing Kerinduan

Kubiarkan jiwa yang lemah
Kurelakan raga yang lelah
Tenggelam ditelaga jiwa
Hanyut dalam sungai air mata kesedihan
Merangkai rasa yang teruntai
Mencari remah-remah rasa yang hilang

Kubiarkan hati pasrah
Pada rindu yang kehilangan arah
Menuangkan risalah hati
Berpeluh menuntun makna
Tentang cinta yang hilang

'Kan ku korek selaksa rindu yang menyiksa
Dibalik kamar yang tersembunyi
Mendekap cinta berselimut rasa,asa
Membiarkan air mata menghangatkan jiwa

Berjuntai-juntai kata pengakuan tentang rindu
Pada sepotong sajak

Menyusuri puing-puing reruntuhan bangunan cinta
Menyusun kembali bangunan kebahagiaan
Meski tanpa tiang penyangga yang kokoh

Kan kutulis sepenggal puisi
Pada dinding-dinding hati yang rapuh
Walau itu menyayat nurani

Aku ingin tetap mencumbu cinta
Meski menyesakkan ruang hati
Aku ingin tetap mengumpulkan bulir-bulir rindu yang bertabur
Menyemainya di palung jiwa

Biarkan rasa ini mengalir dalam setiap aliran darah
Menyusuri jejak-jejak cinta di urat nadi

Biarkan kilau bulir kerinduan
Membasahi rapuhnya rasa

'Kan kutinggalkan sepi yang membayang
Hingga jingga menyapa

Kuningan, 16 Agustus 2012

Kamis, 01 Oktober 2015

Menerjemahkan Pelangi

Hujan yang menangisi jalanan sore itu
Meninggalkan jejak yang terlukis indah
Pada sebidang kanvas biru
Senyum simpul warna warni
Menghias biru yang bisu
Pelangi

Menerjemahkan pelangi
Berarti mengurai warna
Merah yang merekah
Biru yang merayu

Menjamah hatimu
Lebih rumit dari menerjemahkan pelangi
Mencari jejak cinta dihatimu
Lebih sulit daripada mencari jejak pelangi

Adakah dihatimu cinta yang merekah?
Adakah dihatimu rindu yang merayu?

Aku ingin menerjemahkan hatimu
Seperti menerjemahkan pelangi

Bogor, 1 Oktober 2015

Melukis Cinta

Dapatkah aku melukiskan cinta untukmu?
Pada hamparan langit biru
Pada bening air yang menggenang damai
Sementara awan-awan mengarak warna pada langit
Sementara ombak bergulung melukiskan gelombang

Bisakah aku mengguratkan warna?
Pada selembar kain perca
Pada kanvas yang menguning
Aku ingin tetap menggoreskan kuas
Melukis bibirmu yang menggoda
Menggores pipimu yang merona
Menggambarkan matamu pada selembar kanvas

Semua tentangmu selalu indah
Meski hanya sebuah lukisan
Bahkan meski sekedar bayang

Dapatkah aku memiliki cintamu?
Lebih dari sekedar lukisan
Lebih dari sekedar goresan kuas
Yang bisu

Aku ingin memilikimu
Seperti kupu-kupu menikmati bunga
Seperti malam yang memiliki rembulan

Dapatkah aku melukis mimpi bersamamu?
Menghapuskan lelahku di ujung resah
Melukiskan kebahagiaan yang indah

Kuningan, 18 Januari 2013