Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2015

Luka

Luka lama kambuh kembali
Menjalar disetiap hati
Semakin parah

Janji-janji dilangkah ini
Hanya usap
Hanya sentuh telinga, lalu pergi

Bahkan malam yang biasa singgah
Enggan menyapa pada sang bulan

Mimpi-mimpi tak cantik lagi
Sejengkal melangkah bertambah nyeri

Luka...
Kau paksa kami
Untuk menahan luka ini

Sedang kau sendiri telah lupa

Akan gaduhnya jerit
Akan busuknya derita
Akan hitamnya tangis
Akan kentalnya nanah

Di kaki kami yang labil melangkah.


Kuningan, 20 Januari 2013

Sajak Orang-orangan

Izinkan aku bersajak! Tuan.
Boleh tutup telinga jika terdengar tak enak. Apalagi jika membuat sesak.

Lihatlah! Tuan.

Orang goblok dikasih golok, 
ya sudah pasti kerjaan nya ngegorok.
Orang sakit dikasih cerulit, 
ya sudah semua yang dianggap tidak sejalan dengan pemikirannya langsung sabit.
Orang waras ga punya beras.
Ujung-ujungnya jadi pemeras.

Orang pintar hanya bisa berkelakar.
Orang bodoh hanya bisa pasrah.
Orang-orangan hanya bisa tepuk tangan.
Lalu Aku bertanya. 

Siapa si goblok?
Siapa si sakit?
Siapa si waras?
Siapa si pintar?
Siapa si bodoh?
Siapa Orang-orangan?
Izinkan aku tertawa! Tuan.
Hahaha.

Ada si goblok yang lagi sakit.
Tapi pura-pura waras.

Ada yang ngaku pintar.
Tapi nyatanya bodoh.

Haha...
Dasar Orang -orangan.

Bogor, 29 Maret 2015

Kata Tinggalah Kata

Banyak orang yang menyuarakan kerjasama dan gotong royong
Padahal hidup mereka egoistis dan individualistis

Banyak orang yang berpura- pura mrendahkan hati
Padahal sikap hidup mereka menonjolkan keakuan

Banyak orang yang berbicara tentang toleransi
Padahal prilaku mereka membesarkan perbedaan dan mengkerdilkan persamaan

Banyak orang yang berbicara tentang etika, moral, dan kebajikan
Padahal hidup mereka penuh dengan kemunafikan dan kepura- puraan

Banyak orang yang berbicara tentang kearifan dan keharmonisan
Padahal kebijakan mereka berpihak pada kelompok dan kepentingan sendiri

Banyak yang berbicara tentang keprihatinan dan kesederhanaan
Padahal hidup mereka bergelimang kemewahan dan kemegahan

Akhirnya, Kata-kata tinggallah kata-kata
Meski disuarakan lantang tetaplah ia kata-kata
Tanpa perbuatan, kata-kata hanyalah sampah

Jakarta, 16 Juni 2014

Musyawarah Kaum Pinggiran

Inilah cara kami memandang perbedaan
Tak perlu saling menjatuhkan
Cukup sampaikan dengan sedikit senyuman
Berkacak pinggang
Tak mesti saling serang

Inilah cara kami memandang permasalahan
Cukup duduk bersama
Saling bercengkrama
Tak ada cacian tak pula makian

Inilah musyawarah kami
Musyawarah kaum pinggiran

Jakarta, 12 Agustus 2014

Konyol

Hidup konyol macam apa ini?
Dirumah kecil itu pasangan suami istri mendambakan kehadiran bayi
Sementara, di kali- kali yang kotor banyak pasangan gelap yang membuang bayi nya

Hidup konyol macam apa ini?
Di pinggiran kota bayi- bayi kekurangan gizi karena orang tuanya tak mampu beli susu
Sementara, di tengah kota yang angkuh banyak bayi - bayi tak sempat menikmmati ASI dan hanya diberi susu formula

Hidup konyol macam apa ini?
Dibalik bilik bambu seorang anak merengek minta sepatu baru karena sobek
Sementara, dibalik rumah dengan pagar yang tinggi seorang anak bebas memilih sepatu demi gengsi

Hidup konyol macam apa ini?
Di pinggiran desa anak- anak sekolah sedih karena tak ada guru
Sementara, di kota besar anak- anak sekolah tawuran karena guru nya sibuk menyiapkan materi

Hidup konyol macam apa ini?
Di taman gelap orang menjual badan demi mengganjal perut nya yang keroncongan
Sementara, di hotel mewah istri para guru menjual badan demi mengganjal pantat nya dengan jok sedan

Hidup konyol macam apa ini?

Jakarta, 11 Juli 2014

Siapa Dia?

Siapa dia?
Apakah dia sodaraku?
Aku mengenal baju nya yang lusuh
Aku mengenal nyanyian nya yang sumbang

Siapa dia?
Apakah dia temanku
Aku mengenal bau keringat nya
Aku mengenal bau nafasnya yang memburu

Siapa dia?
Apakah dia tetanggaku?
Aku mengenal tarian itu
Aku mengenal nyanyian itu

Kenapa dia menari-nari dibawah lampu itu?
Kenapa dia bersenandung sendiri di trotoar itu?
Apakah dia orang gila?
Atau kah saya yang gila
Yang membiarkan dia

Kenapa dia memakai pakaian compang- camping?
Kenapa dia tak memakai celana?
Apakah dia tidak malu?
Ataukah saya yang harus malu
Menyaksikan sodara sendiri di tertawakan atas deritanya

Bogor, 5 September 2014

Gembala Tikus

Seirang gembala menyusuri kota
Telanjang kaki telanjang dada
Melangkah perlahan dijalan aspal

Hey, jalan aspal bukan pematang
Lihatlah..!!!
Kaki nya terluka, tersandung batu

Tak ada pohon tempat berteduh
Hanya panas yang semakin terik

Geembala terus melangkah
Menahan panas berbalut debu

Dilihatnya mobil
Lalu bertanya
"Binatang apa itu?"

Dilihatnya kereta
"Wah, ularnya besar sekali"
Ujar si gembala

Terdengar gemuruh di udara
Hey..burung nya besar sekali

Dilihatnya seorang koruptor
Wah, Tikus nya besar sekali
Kalau begitu aku akan mengembala tikus

Bogor, 8 September 2014

Kebebasan

Kebebasan berbicara menimbulkan sengketa
Ada kisah
Ada perintah
Uang sebagai pemisah

Bogor, 11 September 2014

Bahagia Bersama


Aku suka cacian juga celaan
Karena Itu bagian dari metamorfosa
Asalkan kau bahagia

Tapi, aku lebih suka nasihat
Karena itu bagai air yang menyegarkan
Aku suka rangkulan tanganmu, karena itu bagai bunga
Yang menjernihkan pandangan
Maka kita akan bahagia bersama
Seiring mekarnya bunga yang kita sirami

Bogor, 21 November 2014

Pembual

Sang pembual bercerita tentang eloknya purnama
Ia serupa matahari
Datang dari balik mega
Ia curi hatiku dengan sejuta pesona.
Lalu ia pangkas ranting jiwaku begitu saja
Aku tunduk,
Menyerah dihadapannya

Bogor, 27 September 2015

Hilang

Satu- satu mereka tumbang
Di tebas angin keserakahan
Dua- dua mereka hilang
Ditelan lumpur kekuasaan

Ah,
Ini hanya sebuah elegi
Tentang dia yang kehilangan mimpi
Atau harga diri
Tentang dia yang tak percaya janji
Atau karena sering diingkari
Tentang dia yang tak pernah simpati
Atau memang tak punya hati

Bogor, 21 Desember 2014

Liar

Aku seperti binatang bertubuh belang
Atau seperti binatang berbelalang
Bisa seperti binatang berkubang
Binatang apa asyik berkubang?
kadang ku suka mengerang
Kadang juga ku meradang
Aku bak binatang jalang
Kadang ku menerjang
Juga ku menyerang
Berwajah garang
Namun periang
Aku terbuang
Menghilang
Ah, malang
Memang
Malang
;Yang
Sayang
Ah, sayang
Seribu sayang
Hilang; terbang
Si hidung belang
Si mata keranjang
Selalu saja menang
Semua  karena uang
Tak tahu kasih sayang
Jauh dari kasih sayang
Tak ada yang penyayang
Hanya nafsu merangsang
Pikirannya selalu melayang
Merindukan keadaan ranjang
memang dasar si hidung belang
Selalu  saja ingin  jadi pemenang
Dengan berdalih perasaan senang

Bogor, 27 Desember 2014

Mantra Pembangkit Jiwa

Ketika bambu tak lagi runcing.
Maka kan ku buat seruling.
Kan ku sayat tubuhmu dengan suara nya yang melengking.

Ketika darah tak bisa lagi tertumpah.
Maka, kan kubiarkan tinta ini tumpah.
Kan kutulis sajak-sajak gundah.
'Tuk buat hatimu resah.

Yang lalu biarlah menjadi sejarah.
Sejarah tentang penjajah.
Penjajah yang menjarah.
Penjarah yang menjajah.
Ah,

Aku bukan penyair.
Yang menulis sajak-sajak cinta.

Aku adalah darah yang kemarin tumpah.
Aku adalah tinta yang hari ini tumpah.
Dan esok, aku adalah sejarah.

Aku adalah perjuangan.
Perjuangan yang belum usai.
Untuk sebuah perubahan.

Aku adalah mantra.
Pembangkit jiwa.

Jiwa yang telah mati.

Bogor, 23 Maret 2015

Kesaksian

Dalam dekap malam.
Aku menatap wajahnya yang muram.
Wajah yang lelah menatap masa depan yang suram.

Diatas tanah yang basah.
Aku merasakan hatinya yang gelisah.
Hati yang lelah mengikuti hidup yang tak terarah.

Dibawah terik yang membakar.
Aku menyaksikan tatapannya yang nanar.
Tatapan yang lelah karena harus berpura-pura tegar.

Aku pernah menyusuri lorong lorong sempit dalam terminal.
Disana aku menemukan harapan mereka yang tetinggal.

Aku pernah berjalan didekat tumpukan sampah.
Disana kutemukan dia sedang gelisah.

Aku pernah berjalan disudut-sudut pasar.
Disana kutemukan dia sedang gusar.

Adakah mataku ini hanya untuk menyaksikan itu semua?
Apakah hati ini telah membisu untuk sekedar menyapa mereka?

Bogor, 14 Mei 2015