Minggu, 06 Desember 2015

Lilin Yang Malang

Senja baru saja menepi
Menenggelamkan wajahmu diufuk kerinduan
Menyembunyikan wajahmu pada gelap yang sepi

Aku menyalakan lilin-lilin kecil di lorong-lorong hatiku
Menyingkap pekat yang menyelimuti
Meraba wajahmu pada remang bayangan cahaya lilin

Kasih, aku ingin menjadi lentera dalam hidupmu
Aku tidak ingin gelap menyelimuti cantiknya wajahmu
Aku tidak ingin malam merenggut senyummu

Aku akan memastikan lilin-lilin itu tetap menyala
Hingga fajar menyingsing
Cahaya mentari menerpa wajahmu

Aku akan biarkan lilin-lilin kecil itu menyala
Hingga tak tersisa lagi

Aku adalah lilin kecil yang malang itu, kasih
Yang kehilangan pesonanya
Saat mentari menyapa wajah ayu mu

Biarlah aku meleleh hingga tak tersisa lagi
Asalkan malammu tak pernah gelap

Aku menyerah,
Sebab cahaya mentari lebih menarik dari lilin kecil
Seperti cintaku yang kalah
Karena engkau memilih dia dengan pesonanya

Biarlah, aku terbakar habis
Bersama rasa dihatiku.

Bekasi, 05 Desember 2015

Sabtu, 24 Oktober 2015

Asap

Entah sudah berapa lama kami tak melihat matahari.
Yang jelas sudah lama, bahkan sampai kami lupa seperti apa cahaya matahari
Entah sudah berapa lama kami tak pernah melihat langit biru.
Yang jelas sudah sangat lama, bahkan kami ragu masihkah langit berwarna biru?

Sebab, kemanapun kami memandang hanya terlihat kegelapan
Gelap yang menyelimuti tak lagi menentramkan sebagaimana malam
Gelap yang kami rasakan adalah kepedihan mata dan keperihan hati.
Asap telah menyelimuti negeri ini, begitulah yang tersiar di surat kabar dan televisi
Tapi, kami tak pernah percaya pada surat kabar dan televisi.

Entah,apakah kami masih harus percaya pada jam dinding
Sebab, kemanapun jarum melangkah tak pernah ada perubahan--tetap saja gelap.
Persis seperti pemerintahan yang hanya bual janji tapi tak pernah ada perubahan.

Mereka bilang ini bencana.
Kenyataannya ini adalah rencana.

Seperti pepatah:
Tak ada asap kalau tak ada api
Tak ada api kalau tak ada yang membakar
Tak ada yang membakar kalau tak ada oknum
Tak ada oknum kalau masih ada hukum

Asap bukan hanya menyembunyikan tanah kami
Tapi juga menyembunyikan keborokan penguasa dan pengusaha
Asap bukan hanya menyelimuti tanah kami
Tapi juga menyelimuti para penegak hukum yang tertidur pulas
Asap bukan hanya menumbuhkan solidaritas diantara sesama
Tapi juga menumbuhkan sawit-sawit sesudahnya

Mereka bukan hanya membakar hutan-hutan
Tapi mereka juga menyulut kemarahan

Sebelum kami benar-benar mati karena asap
Semoga Tuhan masih menyisakan ampunan kepada kita semua

Biarkan doa-doa menembus langit menyingkirkan asap meski terbatuk-batuk.

Kamis, 15 Oktober 2015

Untukmu Yang Berbahagia

Untuk sahabat yang tak pernah tamat

Pada jejak-jejak langkah yang basah
Pada jejak-jejak waktu yang bisu
Satu per satu kenangan telah tumpah ruah
Terikat dalam bingkai masa lalu

Pada setiap denting waktu yang berlalu
Pada setiap detik yang mencekik
Selalu ada asa yang tersisa
Selalu ada harap yang lenyap

Mari sejenak tundukan kepala
Atas semua karunia usia

Penyesalan tak harus memupus harapan
Selalu ada penyesalan yang mengiringi langkah sang waktu
Namun, bukan berarti harapan harus terkubur dengan sesal masa lalu

Usia adalah karunia
Begitulah kata bijak bestari
Tua adalah pasti namun dewasa adalah pilihan
Begitu pula kata bijak bestari

Teruntuk dirimu yang akan membuka lembar baru
Semoga lembaran itu bercerita tentang kebahagiaan
Teruntuk dirimu yang sedang menatap harapan dicermin kehidupan
Semoga selalu ada senyum indah yang menatapmu dari cermin

Lembaran lama jangan pernah terlupakan
Sebab disana kita belajar kearifan dari guru kehidupan
Cermin lama usah dibuang
Sebab disana kita belajar keteladanan dari cermin diri yang telah usang

Kata-kata memang bukan kado terindah
Sebab dia pernah berdusta
Tapi puisi selalu jujur
Tentang apa kata hati

Sebait harapan akan kebaikan
Di usiamu yang bertambah dewasa
Seperti puisi yang tak pernah mati
Semoga kebahagiaanmu pun demikian

Selamat mengulang tahun
Selamat menyulam harapan

Bogor, 14 Oktober 2015

Minggu, 11 Oktober 2015

Tidak Lagi Cemburu

Aku cemburu...
Aku cemburu pada siapa saja yang selalu berada didekatmu.
Aku cemburu pada semua orang yang mampu membuatmu bahagia.
Aku cemburu pada mereka yang kau jadikan tempat berkeluh kesah.

Aku cemburu...
Aku cemburu Pada angin yang membelai mesra pipimu.
Aku cemburu pada air yang membelai mesra seluruh tubuhmu.
Aku cemburu pada mentari yang menatap genit padamu di pagi hari.
Aku cemburu pada rembulan yang menyelamatkanmu dari kegelapan malam.

Aku cemburu...
Aku cemburu pada pakaian yang bisa melindungi tubuhmu.
Aku cemburu pada sandal yang melindungi kakimu dari goresan batu-batu.
Aku cemburu pada kacamata yang selalu kau tatap setiap saat.

Aku cemburu...
Tapi aku kan tetap menyangi dan mencintaimu.

Aku ingin menjadi orang yang paling dekat dengan hatimu.
Aku ingin menjadi orang yang akan selalu membahagiakan hatimu.
Aku ingin menjadi tempat hatimu berkeluh kesah.

Aku tidak hanya ingin membelai pipimu tapi juga hatimu.
Aku tidak hanya ingin menikmati tubuhmu tapi juga hatimu.
Aku tidak ingin sekedar menatap wajahmu tapi juga hatimu.
Aku tidak ingin sekedar menyelamatkanmu di kegelapan tapi juga menghilangkan sepi dihatimu.

Aku tidak hanya ingin melindungimu tapi juga hatimu.

Aku ingin menjadi orang yang ada di mata dan hatimu.

Aku tidak akan cemburu (lagi) pada siapapun, pada apapun.
Sebab aku mencintaimu seutuhnya.

Bogor, 11 Oktober 2015

Kenangan Yang Tertinggal

Kuningan-Bogor tak terlalu jauh
Walau bus sering tersengal menapaki jalan aspal
Sepanjang perjalanan aku menuliskan namamu
Pada kaca jendela yang ber-embun
Walau terkadang embun juga yang menghapusnya
Aku tidak peduli

Aku menyaksikan pohon dan rumah yang dilewati bus
Seolah berlari tak mau tertinggal
Ah, itu seperti kenangan kita yang tak mau kutinggal

Kuningan-Bogor ternyata cukup jauh
Untuk memisahkan cinta kita

Bogor, 10 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

Pengakuan

Di atas permadani kecil di sudut sepi
Kubentangkan hamparan dosa-dosa
Dihadapan pengampunanMu yang tak bertepi
Kuhapuskan ke-akuan yang tergantikan ke-AkuanMu

Bulir-bulir embun yang berlinang di sudut sunyi
Menjadi saksi akan sebuah pengakuan dan kepasrahan

Pengakuan akan ke-Maha Kuasaan atas ketidakberdayaan
Kepasrahan akan kehendakMu diatas harapan

Kuresapi dan kusesapi dalam-dalam panggilan cintaMu
Adakah diriku yang hina ini menjadi mulia dalam pandanganMu?
Adakah NamaMu dalam hati insan yang penuh khilaf ini?

Aku ingin kembali meniti jalan cintaMu
Mencari pintu pengampunanMu yang masih terbuka
Untuk jiwa yang mati
Untuk bibir yang kering dari menyebut namaMu

Laa ilaha ilallah,

Bogor, 07 Oktober 2015

Hanya Kamu

Penaku telah menari menuliskan sajak
Semuanya tentang kamu

Kuasku telah kugoreskan diatas kanvas
Semuanya hanya lukisan wajahmu

Pikiranku telah tersandra
Hatiku telah terikat
Lagi-lagi pikiran dan hatiku juga hanya tentangmu
Betapa mengerikannya orang yang sedang jatuh cinta

Bogor,07 Oktober 2015