Minggu, 11 Oktober 2015

Tidak Lagi Cemburu

Aku cemburu...
Aku cemburu pada siapa saja yang selalu berada didekatmu.
Aku cemburu pada semua orang yang mampu membuatmu bahagia.
Aku cemburu pada mereka yang kau jadikan tempat berkeluh kesah.

Aku cemburu...
Aku cemburu Pada angin yang membelai mesra pipimu.
Aku cemburu pada air yang membelai mesra seluruh tubuhmu.
Aku cemburu pada mentari yang menatap genit padamu di pagi hari.
Aku cemburu pada rembulan yang menyelamatkanmu dari kegelapan malam.

Aku cemburu...
Aku cemburu pada pakaian yang bisa melindungi tubuhmu.
Aku cemburu pada sandal yang melindungi kakimu dari goresan batu-batu.
Aku cemburu pada kacamata yang selalu kau tatap setiap saat.

Aku cemburu...
Tapi aku kan tetap menyangi dan mencintaimu.

Aku ingin menjadi orang yang paling dekat dengan hatimu.
Aku ingin menjadi orang yang akan selalu membahagiakan hatimu.
Aku ingin menjadi tempat hatimu berkeluh kesah.

Aku tidak hanya ingin membelai pipimu tapi juga hatimu.
Aku tidak hanya ingin menikmati tubuhmu tapi juga hatimu.
Aku tidak ingin sekedar menatap wajahmu tapi juga hatimu.
Aku tidak ingin sekedar menyelamatkanmu di kegelapan tapi juga menghilangkan sepi dihatimu.

Aku tidak hanya ingin melindungimu tapi juga hatimu.

Aku ingin menjadi orang yang ada di mata dan hatimu.

Aku tidak akan cemburu (lagi) pada siapapun, pada apapun.
Sebab aku mencintaimu seutuhnya.

Bogor, 11 Oktober 2015

Kenangan Yang Tertinggal

Kuningan-Bogor tak terlalu jauh
Walau bus sering tersengal menapaki jalan aspal
Sepanjang perjalanan aku menuliskan namamu
Pada kaca jendela yang ber-embun
Walau terkadang embun juga yang menghapusnya
Aku tidak peduli

Aku menyaksikan pohon dan rumah yang dilewati bus
Seolah berlari tak mau tertinggal
Ah, itu seperti kenangan kita yang tak mau kutinggal

Kuningan-Bogor ternyata cukup jauh
Untuk memisahkan cinta kita

Bogor, 10 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

Pengakuan

Di atas permadani kecil di sudut sepi
Kubentangkan hamparan dosa-dosa
Dihadapan pengampunanMu yang tak bertepi
Kuhapuskan ke-akuan yang tergantikan ke-AkuanMu

Bulir-bulir embun yang berlinang di sudut sunyi
Menjadi saksi akan sebuah pengakuan dan kepasrahan

Pengakuan akan ke-Maha Kuasaan atas ketidakberdayaan
Kepasrahan akan kehendakMu diatas harapan

Kuresapi dan kusesapi dalam-dalam panggilan cintaMu
Adakah diriku yang hina ini menjadi mulia dalam pandanganMu?
Adakah NamaMu dalam hati insan yang penuh khilaf ini?

Aku ingin kembali meniti jalan cintaMu
Mencari pintu pengampunanMu yang masih terbuka
Untuk jiwa yang mati
Untuk bibir yang kering dari menyebut namaMu

Laa ilaha ilallah,

Bogor, 07 Oktober 2015

Hanya Kamu

Penaku telah menari menuliskan sajak
Semuanya tentang kamu

Kuasku telah kugoreskan diatas kanvas
Semuanya hanya lukisan wajahmu

Pikiranku telah tersandra
Hatiku telah terikat
Lagi-lagi pikiran dan hatiku juga hanya tentangmu
Betapa mengerikannya orang yang sedang jatuh cinta

Bogor,07 Oktober 2015

Kutulis Namamu

Angin yang berhembus 'tlah menjatuhkan si daun kering yang malang
Aku menjadi saksi bagaimana ia pasrahkan dirinya pada angin

Ingin kutulis kebahagiaan pada sepucuk daun kering
Inhin kutulis keindahan pada sepucuk daun yang baru saja terhempas angin

Semuanya terlalu panjang
Terlalu banyak kebahagiaan yang ingin ku ceritakan
Terlalu banyak keindahan yang ingin ku kisahkan

Sedang sepucuk daun tak cukup untuk menuliskan itu
Maka, aku memutuskan untuk menuliskan namamu
Sebab, namamu telah mewakili kebahagiaan dan keindahan hidupku

Kan kubiarkan daun kering
Mengendap diladang hatiku
Menumbuh suburkan cinta yang baru saja tumbuh

Bogor, 07 Oktober 2015

Jarak

Seberapa jauh kita dipisahkan?
Seberapa lama kita tak bertemu?

Berapapun jarak membentang
Berapa lama pun waktu merentang

Sesungguhnya, jarak dan waktu hanya ilusi
Sebab cinta mampu menghilangkannya.

Bogor, 07 Oktober 2015

Selasa, 06 Oktober 2015

Arti Kesetiaan

Cinta telah mengajarkanku tuk setia pada satu hati.
Cinta juga telah mengikrarkan kesetiaan diantara kita.

Kini aku meragukan arti kesetiaan yang kau berikan.

Apa arti setiamu?
Jika kau sering membuatku cemburu.
Apa arti setiamu?
Jika kau sering membuatku berderai air mata di keheningan malam?
Apa arti setiamu?
Jika kau sering membuatku mengutuk cinta yang tak bahagia.
Apa arti setiamu?
Jika membuatku ragu tuk setia padamu.

Apakah seperti itu yang dinamakan setia?
Tapi mengapa mereka selalu bahagia di atas kesetiaan?

Diriku selalu bermandikan air mata atas nama kesetiaan
Diriku selalu berkubang dalam duka atas nama kesetiaan
Diriku selalu terpenjara dalam penyesalan atas nama kesetiaan
Diriku selalu tersayat kekecewaan atas nama kesetiaan
Diriku selalu memendam amarah atas nama kesetiaan

Lalu, Apa arti kesetiaan itu?
Apakah membiarkan hati terluka adalah kesetiaan?
Apakah membiarkan dada ini terkoyak adalah kesetiaan?
Apakah pasrah terhadap penyanderaan rasa juga adalah kesetiaan?

Lalu apa arti kesetiaan?
Sebab, aku ingin tetap setia.

Bogor, 6 Oktober 2015